Warung Tuman BSD City, Serpong, Tangerang

Warung Tuman BSD City

Bagi masyarakat perkotaan, menikmati sajian masakan sekaligus merasakan suasana alam di tempat makan atau restoran menjadi hiburan tersendiri. Tempat makan semacam itu, di era ini bahkan dianggap sebagai destinasi untuk berwisata yang patut dinikmati sensasinya.

Tempat makan berkonsep menyatu dengan alam nyatanya kini cukup menjamur di berbagai wilayah perkotaan, seperti di Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Salah satu tempat makan di Tangsel yang mengangkat konsep berbaur dengan alam, yaitu Warung Tuman.

Berlokasi di kawasan BSD, Serpong, Tangsel, tempat makan tersebut menjadi salah satu destinasi bagi para pencinta jalan-jalan sekaligus kulineran. Lokasinya terbilang unik, pengunjung perlu blusukan ke perkampungan, melewati jalan setapak dan pepohonan bambu, serta melintasi tempat pemakaman umum (TPU) Ciater Tengah terlebih dahulu untuk menjangkaunya.

Sekilas, tak ada yang ‘wah’ dari tempat makan itu. Pintu masuk selebar dua kali pintu rumah ukuran standar dan pagar berupa tanaman dan pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Lalu, genting berwarna kusam yang banyak dinaungi game yang lay, juga meja dan kursi yang terbuat dari kayu bekas. Serta beberapa saung, lengkap dengan tempat duduk berupa anyaman kayu.

Beberapa saung tampak tak sempurna bentuk-bentuknya karena pepohonan yang dibiarkan tetap tumbuh ke arah langit. Adapun beberapa kursi yang digunakan untuk menyajikan makanan merupakan alat-alat makan yang umum dianggap jadul.

Pemilik Warung Tuman, Eko Sulistyanto, menuturkan, dia memang berangan untuk memiliki warung makan dengan konsep perdesaan. Sebab, kehidupan, masyarakat perkotaan kerap kali pemandangan indah tempat makan yang rindang dan asri dengan pemandangan serbahijau.

“Konsepnya sepenuhnya tradisional. Tempatnya sangat orisinal desa, bukan dibuat-buat. Kami biarkan pohon-pohon di sini tumbuh, jadi menyatu dengan ekosistem yang ada. Karena, saya berpikir bahwa orang pasti suka di bawah pohon. Kami hanya membersihkan dan membuat saung, lalu mengisinya dengan barang-barang bekas,” tutur Eko saat ditemui di Warung Tuman, akhir pekan lalu.

Meski baru berusia lebih dari setahun, Warung Tuman yang berkapasitas 200 orang telah didatangi banyak pengunjung. Tidak hanya pengunjung yang berasal dari Tangsel, tapi dari luar daerah bahkan beberapa dari luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Jerman.

Tak melulu ‘menjual’ suasana, sebagaimana peruntukannya sebagai tempat makan, Warung Tuman menyajikan menu-menu yang dinilai berbeda dari tempat makan lainnya. Sajian yang dominan adalah masakan minang resep tradisional keluarga.

Nanin, istri Eko, yang juga pemilik Warung Tuman mengatakan, menu yang populer di tempat makan tersebut di antaranya nila calabatuik. Menu ini memiliki proses yang cukup panjang. Berawal dari ikan nila yang dibungkus dengan daun pisang, lalu dibuat, dibakar, hingga dicampur dengan santan yang sudah berisi bumbu-bumbu resep keluarga yang disebut bumbu saput, lalu siap disajikan.

Selain nila calabatuik, ada juga menu Minang lainnya, seperti gulai bareh dan dendeng batokok. Juga ada menu Jawa, seperti mangut pari asap, dan menu manado, seperti tumis bunga pepaya yang tersaji di Warung Tuman. Menurut Nanin, semua masakan yang disajikan di tempat makan tersebut diracik dengan bumbu yang kaya akan rempah.

“Saya rasa mengapa  khas masakannya di sini, karena enggak  pelit bumbu. Saya biasanya bikin bumbu medok, seperti yang menyediakan orang tua,” kata Nanin.

Salah satu pengunjung Warung Tuman, Wiwin menilai, tempat makan tersebut memang pas untuk menikmati suasana alam sambil menyantap masakan-masakan yang disajikan. “Suasananya adem, banyak pepohonan. Karena, kebetulan pandemi ini juga bosan banget ya di rumah, jadi keluarlah menikmati tempat yang asri, seperti ini,” ujar Wiwin.

Source text : https://www.republika.id/posts/17948/warung-tuman-restoran-unik-di-sudut-pemakaman

Photo :  koleksi pribadi

Diterbitkan oleh ruben sukatendel

Ruben Sukatendel, Street Photographer

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai