
Ketika hari raya idul fitri, banyak camilan khas daerah yang dijual atau disajikan kepada para tamu saat bersilahturahmi. Di Jakarta, salah satu makanan khas dari orang2 Betawi adalah Dodol Betawi dan Bir pletok.
Dodol Betawi dan Bir Pletok kini makin sulit untuk dijumpai. Hanya di daerah tertentu di wilayah Jakarta yang memegang teguh budaya Betawi tradisional dan warisan, salah satunya adalah Setu Babakan di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Dodol Betawi
Makanan ini sudah ada turun temurun dari jaman nenek kita. Banyak pengusaha Dodol Betawi. Salah satu dari mereka Nyak Mai, yang telah menjadi bisnis turun-temurun sejak 15 tahun lalu. Sekarang upaya Nyak Mai akhir diteruskan oleh putra dan putri.
Setiap hari keluarga nyak mai terlihat sibuk di rumah membuat Dodol Betawi. Mereka mengaduk adonan dodol dalam wajan besar terbuat dari tanah liat, biasa disebut kenceng. Perubahan adonan dari cair ke padat diaduk menggunakan tongkat panjang dan membutuhkan tenaga ekstra, terutama adonan semakin berat dan harus diaduk terus sampai matang, pengadukan dilakukan secara bergiliran.
Dodol Betawi adalah terbuat dari campuran Gula Merah, Minyak Kelapa, Tepung Beras Ketan dan Gula Pasir. Awalnya susu kelapa yang direbus, kemudian dimasak dengan gula merah. Kemudian tepung ketan dicampur dengan santan. Dalam kenceng besar, dengan pengadukan terus 7-9 jam untuk menghasilkan 20 kilogram Dodol Betawi siap untuk makan dan dikemas.
Bir pletok
Asal mula pembuatan Bir Pletok pada waktu periode kolonial Belanda. Masyarakat Betawi yang minum bir mengikuti orang-orang Belanda. Cara membuat minuman yang bisa menghangatkan tubuh tetapi tidak memabukkan. Sampai akhirnya ide untuk mencampur rempah-rempah menjadi minuman yang menghangatkan tubuh yang sehat dan baik.
Bir pletok terdiri dari 15 bahan. Garam, Air, Gula, Cengkeh, Kayu Manis, dan jahe, Misoye Kayu, Kayu Secang, Daun Pandan, biji Pala, Kapulaga, Sere Batang, lada hitam & Daun Jeruk. Proses manufaktur, air pertama termasuk bumbu kemudian dimasak. Setelah mendidih, lalu meletakkan cangkir kayu, kemudian direbus, kemudian disaring bahan rempah-rempahnya. Baru ditambahkan gula dan garam.
Alasannya disebut Beer pletok ada beberapa versi. Pertama suara Biji Pala saat dimasak, yang berbunyi pletok-pletok. Kedua, di masa sebelumnya, presentasi Bir pletok dimasukkan dalam bambu dan dikocok-kocok dengan es batu. Es batu yang terguncang dalam bambu juga berbunyi pletok-pletok.
Kini Bir Pletok dijadikan ladang usaha bagi pengusaha yang berada di setu babakan, dikemas dalam botol untuk mempopulerkan Bir pletok. Harga per botol 15 000 Rupiah. Hanya terbatas modal untuk memperluas pasar. Dapat diminum baik panas atau dingin.
Tepat hari libur, tidak ada salahnya untuk mencoba camilan Khas Betawi iki. Dodol Betawi dan Bir pletok, tentu saja lezat dan sehat.
Text source : http://ogemshow.blogspot.com/p/dodol.html?m=1
Photo : koleksi pribadi








































































